Monday, April 6, 2009

10. Struktur Histologi Sistem Saraf Pusat

Pendahuluan

Sistem saraf pusat adalah sistem saraf yang mengandung pusat pengelola rangsang saraf, rangsang ini setelah ditafsirkan dapat disimpan atau diteruskan ke sistem saraf tepi untuk menimbulkan tanggapan.

Sistem saraf pusat dibedakan tiga pusat : Cerebrum, Cerebellum dan Medulla spinalis.

A. Cerebrum

Korteks cerebri mempunyai ketebalan satu koma lima sampai empat mm, secara makroskopik dataran luar menunjukkan bangunan yang disebut : Sulkus (lekukan) dan girus ( peninggian).

Korteks disusun oleh 6 lapisan, berturut-turut dari luar ke dalam :

1. Lamina molekularis (pleksiformis) : sel penyusunnya kecil dan relatip sedikit, sedangkan unsur serabut lebih menyolok membentuk anyaman (pleksus)

2. Lamina granularis externa : ukuran sel saraf kecil dan banyak

3. Lamina piramidalis externa : jumlah sel jarang, berbentuk piramid kecil

4. Lamina granularis interna : sel saraf kecil banyak

5. Lamina piramidalis interna : sel saraf berbentuk piramid lebih besar. Di daerah korteks yang disebut area motorika sel saraf khusus berbentuk piramid besar, dikenal sebagai sel Betz.

6. Lamina multiformis : Sel saraf berbentuk aneka ragam. Disela antara neuronum terisi oleh neuroglia.

B. Cerebellum

Korteks cereblli terdiri atas tiga lapisan, dari luar ke dalam dijumpai :

1. Stratum molekulare (plexiformis) :

Ø sel saraf sedikit dan kecil

Ø serabut saraf : neurofibra non-myelinata banyak, beranyaman.

2. Stratum neuronarum piriformium : Sel saraf berbentuk serupa botol atau buah kambu air, berderet, dikenal sebagai sel Purkinje .

3. Stratum granulosum : Sel saraf banyak, kecil dan padat

C. Medulla Spinalis

Kalau pada cerebrum dan cerebellum substantia grisea menempati bagian permukaan dan substantia alba bagian pusat, maka dalam medula sipnalis keadaan sebaliknya :

1.Substantia grisea : berwarna keabu-abuan, sebab penuh berisi neurosit yang berkelompok dan membentuk nukleus. Pada lapisan melintang melalui medulla spinalis, bagian ini menunjukkan gambaran seperti kupu-kupu atau huruf H, sehingga ada 3 gambaran tanduk :

a. Kornu dorsale : pada medulla spinalis utuh disebut kolumna dorsalis

b.Kornu laterale : pada pada medulla spinalis utuh disebut kolumna lateralis

b.Kornu ventrale : pada medulla spinalis utuh disebut kolumna ventralis

c. Substantia grisea mengandung neurositus : banyak neuroglia, terutama astrositus neurofibra non-myelinata.

2. Substantia alba : keputih-putihan, menempati bagian luar medulla spinalis. Bagian ini : Tidak mengandung neurositus, penuh neurofibra myelinata, yang menyebabkan warna keputih-putihan, neuroglia; oligodendrositus terbanyak, membuat stratum myelini untuk neurofibra, astrositus sedikit.

3. Kanalis centralis yang berada di pusat medulla spinalis dan berisi liquor cerebrospinalis mempunyai dinding, dinamakan ependima, tersusun oleh ependimositus, teratur sebagai epitel.

Meningens

Sistema nervosum sentrale diselubungi oleh bungkus : meninges (jika tunggal dinamakan mening. Ada tiga macam bungkus, dari luar ke dalam :

1. Dura mater (dura = keras ; mater = ibu)

· dura mater ensephali : membungkus ensephalon

· dura mater spinalis : membungkus medulla spinalis. Bungkus ini tertebal, disusun oleh jaringan ikat padat dan mengandung : serabut kolagen kuat : di encephalon : kurang teratur dan di medulla spinalis : membujur. Serabut elastis sedikit.

2.Arachnoidea mater : menyerupai rumah laba-laba (Arachnida), dihubungkan dengan bungkus lain oleh trabekula arachnoidealis. Dikenal 2 macam :

· arachnoidea mater encephali : membungkus encephalon

· arachnoidea mater spinalis : membungkus medula spinalis

Bentuk menyerupai rumah laba-laba menyebabkan bungkus ini memiliki :

· citerna sub-arachnoidea : berisi liquor cerebrospinalis

· trabecula arachnoidealis : membatasi cisterna, mengandung banyak serabut kolagen, sedikit serabut elastik.

3. Pia mater (pia=lunak), menempel pada sistema nervosum sentrale :

· pia mater encephalis : membungkus encephalon

· pia mater spinalis : membungkus medulla spinalis

Sifat :

· dilapisi oleh epithelium simpleks squamosum serupa mesthelium

· mengandung banyak serabut kolagen, sedikit serabut elastik

· dilengkapi dibroblastus, makrophagositus, pembuluh darah

Friday, April 3, 2009

9. Struktur Histologi Kulit

Pendahuluan

Kulit (Integumentum Communae) menutupi seluruh permukaan badan, terdiri atas lapisan : epidermis dan suatu lapisan jaringan penyambung berupa dermis (korium) serta hipodermis (sub kutis) yang terdiri atas jaringan ikat longgar menghubungkan dermis dengan jaringan dibawahnya.

Fungsi kulit :

1. Membungkus serta melindungi tubuh hewan terhadap pengaruh luar yang merugikan.

2. Ikut mengatur suhu tubuh serta kadar air.

3. Membuang garam dan hasil metabolisme yang berlebihan.

4. Melindungi tubuh terhadap pengaruh fisik, kimia dan jasad renik kedalam tubuh.

Beberapa kelenjar kulit yang berperan dalam berbagai fungsi sekresi kulit, antara lain : Kelenjar Palit, Kelenjar Peluh, Kelenjar ambing dan kelenjar kulit khusus. Beberapa struktur yang merupakan turunan dari kulit adalah : rambut, bulu, kuku, tanduk, jengger, pial dan gelambir.

7.1 Kulit

a.Epidermis

Terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang bertanduk, memiliki lima lapis utama yakni :

1.Stratum basale / stratum germinativum : merupakan lapis paling bawah terdiri atas epithel kubis atau silindris sebaris rendah. Lapisan ini bersifat mitosis aktif untuk menggantikan lapis diatasnya yang mati / aus. Pigmen juga bisa ditemukan pada lapis ini selain pada lapis spinosum.

2.Stratum spinosum : sel penyusunnya berbentuk poligonal terdiri atas beberapa lapis, semakin keatas semakin memimpih. Pertautan antar sel yang cukup kuat ditunjang oleh desmosoma, sel memiliki tenofibril yang berakhir pada desmosoma. Lapis ini juga bisa bermitosis.

3.Stratum granulosum : Satu sampai tiga lapis, sel berbentuk elip dan mulai menunjukkan tanda bertanduk (cornification). Sel tersebut mengandung kerantobilia dan fungsinya masih belum jelas diketahui.

4.Stratum lusidum : Beberapa lapis sel yang telah mati, karenanya beraspek homogen. Inti dan organoida tidak jelas tapi desmosoma masih jelas terlihat, sedangkan butir kerato-hyalin nya sudah lenyap berubah menjadi eledin.

5.Stratum korneum : Merupakan lapis sel yang paling luar, selnya bertanduk dan mengandung keratin yang diduga hasil perubahan eledin. Lapis ini pada beberapa tempat tebal dan bila kering akan mengelupas membentuk stratum disjunktum. Khususnya untuk stratum lusidum hanya ditemukan pada daerah yang tidak berambut, misalnya : planumnasale atau bantalan kaki.

Keratin adalah suatu skleroprotein yang sangat resisten terhadap pengaruh kimia dan biasanya keratin yang terdapat pada epidermis adalah keratin lunak dan keratin keras terdapat pada kuku, rambut yang bersifat kurang elastis karena kandungan sulfer tinggi.

b. Dermis / Korium

Sering disebut Kutis vera, merupakan bagian utama kulit, disusun oleh serabut kolagen padat sedangkan serabut elastis dan jaringan ikat lain sedikit.

Korium dibedakan atas dua bagian, yakni :

Ø Stratum papilleare : membentuk jalinan dengan epidermis pada kulit tidak berambut. Tampak papil, dan sering terdapat ujung saraf pembuluh darah serta saluran kelenjar peluh.

Ø Stratum retikulare : Antara stratum papillare dengan stratum retikulare sebenarnya mempunyai batasan yang tidak jelas. Hanya serabut kolagen pada stratum ini lebih padat dan anyamannya mengarah horisontal terhadap permukaan kulit. Didalam ilmu bedah mengetahui arah anyaman serabut kolagen ini sangat penting karena dalam operasi yakni memberikan proses kesembuhan yang lebih cepat.

c. Hipodermis

Hipodermis atau sub kutis terdiri atas jaringan ikat longgar yang banyak mengandung serabut elastis. Dalam keadaan patologis akan membentuk beberapa rongga yang berisi cairan (edema) atau udara (emphysema). Daerah ini juga merupakan tempat perlindungan lemak terutama pada babi. Pada hewan yang gemuk sel lemak dapat menyusup lebih dalam dan terdapat diantara otot. Daerah tubuh yang sedikit terdapat sub kutis adalah : metakarpus kuda, oleh sebab itulah kulit sulit digerakkan karena melekat kuat.

Integementum Mammalia

Epidermis berkembang dari ektoderm dan hipodermis merupakan turunan dari mesoderm. Pada mulanya epidermis tersusun atas beberapa lapis sel berbentuk kubus. Proliferasi dari sel ini menghasilkan lapisan sel epidermis dan proloferasi sel basal menambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal bertambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal kedalam lapisan dibawah epidermis seperti dermis dan hypodermis menandakan adanya rambut, bulu dan kelenjar, yang mana sel dari jaringan tersebut diatas berhubungan dengan sel epidermis. Dermis dan hipodermis berkembang dari mesenkhim khusus. Poliferasi dan difrensiasi yang cepat dari sel mesenkhim menghasilkan jaringan yang ditandai dengan jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat.

Pigmentasi Kulit

Melanosit adalah sel pembentuk pigmen yang juga dikenal dengan nama : Dermal chromatophore. Terdapat diantara stratum basale dan stratum spinosum tapi dapat juga terdapat pada stratum papillare dari korium.

Sel ini mempunyai bentuk khusus yakni memiliki penjuluran yang menyusup sampai stratum spinosum untuk melepas pigmen melanin pigmen tersebut selanjutnya diambil oleh sel pada lapis tersebut. Melanosit yang tidak berfungsi (istirahat) dikenal dengan “sel cerah” (clear cells). Sedangkan melanosit yang berfungsi dapat dikenali dengan reaksi DOPA (dihydroxyphenylalanine) yaitu melakukan sintesa komplek mengubah DOPA menjadi melanin. Reaksi DOPA inilah yang membedakan sel yang dapat membuat pigmen dan sel yang hanya menampung pigmen dalam epidermis.

Melanin berfungsi melindungi tubuh terhadap pengaruh sinar ultraviolet yang memiliki daya tembus kuat. Sebagian sinar ditahan oleh pigmen melanin. Pada beberapa organisme melanin mungkin tidak ada ( albinisme) mis : kerbau, sapi, harimau dan kera. Dari segi perkembangan ternak piara, albinisme agaknya dianggap suatu cacad keindahan. Kenyataan pada derajat albino yang kuat terdapat gejala takut sinar (photophobia) dan kondisi tubuhnya lebih lemah dari normal. Peristiwa hilang atau tidak cukupnya produksi melanosit yakni sel penghasil melanin juga disebut White Spots.

Kulit daerah Khusus

Beberapa bagian dari kulit ada yang berambut dan ada yang tidak atau gundul. Beberapa bagian tubuh ditandai dengan epidermis yang tebal, sedangkan bagian yang lain tipis. Sama halnya dengan dermis, ketebalannya beragam dalam penyebarannya keseluruh tubuh. Dermis adalah bagian yang paling tebal dari kulit. Kulit daerah tertentu beragam bentuknya, hal ini erat hubungannya dengan cara kerjanya, cara hidup, penyebaran dan tipe kelenjar serta ketebalan kulit merupakan adaptasi fungsional yang paling idela terhadap lingkungan sekitarnya.

1. Bantalan Kaki (Digital pad / food pad)

Bantalan kaki hewan karnivora mengalami penandukan yang hebat menebal, berpigmen kuat dan bagian kulit yang tidak berbulu berguna untuk perpindahan (lokomosi). Bantalan kaki ini tahan terhadap abrasi dan efektif sebagai penyerap goncangan.

2. Skrotum

Kulit skrotum umumnya paling tipis dalam tubuh, stratum korneum tidak berkembang dengan baik dan dermisnya kurang luas. Kelenjar tubuler apokrin dan kelenjar palit ditemui disini. Rambut tubuh halus dan pendek. Serabut otot polos dari tunika dartos mengadakan persilangan dengan serabut kolagen dan elastis dari dermis. Tunika dartos dapat dipengaruhi oleh suhu sekitarnya dan bertanggung jawab atas kedudukan relatif testis terhadap dinding tubuh. Pada derajat yang tinggi otot ini akan berelaksasi, skrotum akan meregang karena dipengaruhi oleh berat testis sehingga kedudukan testis akan menjauhi dinding tubuh sebaliknya terjadi apabila derajat suhu merendah.

3. Hidung

Planum nasale karnivora terbentuk dari penebalan dan pertandukan yang hebat dari epidermis disertai dengan tidak adanya kelenjar palit dan kelenjar tubuler. Planum nasale sapi dan ruminansia kecil tidak berbulu dan mengandung kelenjar merokrin tubuler yang melembabkan permukaannya. Epidermis tebal dan menanduk dengan hebat. Penandukan yang hebat dari planumrostale babi mengandung banyak kelenjar merokrin ubuler dan ditutupi oleh rambut yang jarang. Rambut yang halus dan kelenjar palit menandai kulit yang tipis di sekitar lubang hidung kuda.

4. Meatus Akustikus Eksternus

Merupakan saluran yang menghubungkan antara lubang telinga dengan genderang telinga. Saluran ini dilapisi kulit dengan folikel rambut yang kecil, kelenjar palit dan kelenjar tubuler apokrin yang telah bermodifikasi (kelenjar seruminous) dijumpai disini. Dermis dari saluran ini bercampur dengan perikhondrium dan periosteuon tulang rawan dan penunjang telinga.

Kulit Ayam

Secara garis besar kulit ayam sama dengan mamalia, terdiri atas epidermis dan korium. Lapisan epidermis agak tipis hanyai beberapa lapis sel. Strtaum korneum jelas, papil tidak tampak . Korium terdiri atas dua bagian, bagian superfisial jalinan serabut kolagen lembut dan bagian profundal lebih kasar.

Sub kutis tebal dan banyak mengandung lemak, oleh sebab itu gampang digeser, sedangkan subkutis pada kaki tipis, karena kurang bertaut erat pada tulang kecuali bantalan kaki yang agak tebal dan padat dengan sel lemak dengan septa dan mengandung pembuluh darah.

2. Kelenjar Kulit

2.1 Glandula Surodifera

Dibedakan atas dua type yakni : bentuk merokrin dan bentuk apokrin

a. Bentuk Merokrin

Bentuk kelenjar ini lebih banyak terdapat pada kulit yang sedikit atau tidak terdapat rambut misal : telapak kaki. Lumen ujung kelenjar agak sempit dan epithelnya berbentuk kubis, sel epithel mengandung lemak, glikogen dan kadang pigmen. Pada ujung kelenjarnya terdapat mioepithel yang lebih jarang dari bentuk apokrin. Tempat bermuaranya pada permukaan kulit dan sekretanya lebih bersifat cair dari pada bentuk apokrin.

b. Bentuk Apokrin

Banyak tersebar pada permukaan tubuh hewan piara karena selalu berkaitan dnegan rambut. Disebut apokrin karena sebagian dari ujung kelenjarnya tampak lebih luas dari merokrin dan kutub bebasnya terlepas sebagai sekreta. Bentuk epithel silindris dan tergantung aktivitasnya keadaan mioepithel relatif lebih rapat.

Tipe apokrin berkembang baik pada mamalia. Glandula sudorifera tersebar hampir seluruh permukaan tubuh kecuali pada : gland penis, kulit dalam preputium dan membrana timpani. Kelenjar ini dilengkapi dengan sel mioepithel (Basket cells) yang terdapat diantara kutub basal epithel dan membran basal.

Kelenjar peluh menghasilkan peluh, berbentuk cairan dengan bau khas. Sekresi kelenjar merokrin ternyata lebih encer. Bau khas kelenjar apokrin pada hewan ada kaitannya dengan kehidupan seks dan daya tarik seks. Dalam kelenjar peluh terdapat ureum pada kuda menyebabkan terjadinya busa, garam NaCl, Kholesterin, asam urin dan lain-lain.

Kelenjar peluh pada berbagai hewan piara berbeda dalam beberapa aspek, kuda lebih cepat mengeluarkan peluh karena kelenjar merokrin relatif banyak, ruminansia besar agak kurang. Sedangkan kelenjar peluh pada anjing dan kucing bersifat rudimenter, karenanya apabila panas lidah menjulur keluar untuk mengatur suhu tubuhnya. Pada daerah tertentu suhu tubuh tampak subur, misalnya : didaerah ventral ekor pada domba, daerah puting susu pada babi dan daerah pinggir berambut. Pada manusia kelenjar merokrin tersebar seluruh tubuh sednagkan kelenjar apokrin terdapat didaerah aksilia. Kelenjar peluh sebenarnya adalah alat pembuang metabolit disamping sebagai termoregulator.

2.2 Glandula Sebasea

Disebut juga kelenjar palit, membentuk semacam lobulus yang memiliki membran basal. Alat penyalurnya terdiri atas sel epithel pipih atau kubis rendah selapis dan bermuara didaerah folikel. Cara rekresi kelenjar ini adalah holokrin, sel tua hancur dan menjadi sebum (minyak) yang berguna untuk meminyaki rambut atau bulu, sebum mengandung protein dan kholestrin. Bentuk kelenjar palit ini tergantung dari lebat atau jarangnya rambut, besar atau kecilnya rambut, jenis hewan dan daerah pada tubuh.

2.3 Glandula Mammaria

Kelenjar ini merupakan kumpulan kelenjar tubulo-alveolar, yakni modifikasi kelenjar keringat. Kelenjar ambing ini terdiri atas : puting dan ambing.

Ambing disusun oleh : kapsula, jaringan ikat interstitial, epithel pansekresi dan sistem saluran pengeluaran. Penyebaran jaringan ikat dan parenkhim berfungsi dalam aktivitas sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai lebih banyak parenkhim dan sedikit jaringan ikat dan keadaan akan berbalik apabila kelenjar tidak berlaktasi. Dengan demikian struktur kelenjar ambing pada hewan dewasa yang inaktif (tidak menyusui) berbeda dengan yang aktif dan yang sama sekali belum beranak (dara).

Ciri khas kelenjar ambing masih aktif, ditandai dengan adanya benda kasein yang terdapat pada sisa alveoli, alat penyalur atau pada jaringan ikat bekas alveoli. Pengurangan ujung kelenjar secara progresif diimbali dengan terbentuknya jaringan ikat dan jaringan lemak. Pada permulaan laktasi dimulai dengan perkembangan ujung alat penyalur yang nantinya menumbuhkan ujung kelenjar (alveoli) yang diatur oleh pengaruh hormon progesteron selama proses kebuntingan.

Strukutur histologi kelenjar ambing sebagai berikut :

Ø Stroma : mencakup kapsula, septa dan jaringan interstitial atau interaveolar yang semuanya terdiri atas jaringan ikat sebagai kernagka / penunjang.

Ø Parenkhim : Mencakup ujung kelenjar yang berbentuk tubulu alveolar bercabang majemuk dan alat penyalur. Pada hewan muda yang belum beranak ujung kelenjarnya tidak / belum tampak yang nampak hanya alat penyalur dengan banyak jaringan ikat interstitial, bahkan tampak sel lemak. Pada lumen terdapat susu.

Alveoli

Epithelnya berbentuk kubis rendah atau silindris rendah pada yang aktif, jadi tergantung pada status fisiologinya. Pada permukaan epithel tampak mikrovili dan pada sitoplasma tampak benda golgi, butir lemak memiliki selaput ganda, protein. Pada susu sapi terdapat sekitar 3-4 %. Alveoli dikitari sel mio-epithelium.

Alat Penyalur

Satu atau dua alveoli sekreta dialirkan melalui duktus intralobularis, dengan epithel kubis yang kitari sel mio-epithelium. Epithel alat penyalur masih dapat bersekresi meskipun intensitastnya agak kurang. Pada saluran yang agak besar bentuk epithelnya kubis dua lapis dengan ada tanda bersekresi.

Sinus Laktiferus

Sinus ini merupakan penampung sekreta susu dari loburus atau lobus. Epitel silindris banyak baris dan dikitari oleh serbaut elastis dan otot polos. Sinus ini biasanya menjulur sampai daerah puting susu (Papilla mamae).

Puting Susu

Terdiri atas empat bagian yakni :

Ø Saluran puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis dan bertandu, selaput lendir membentuk lipatan dengan jaringan ikat sebagai tunika propriaa sub-mukosa. Kuda memiliki dua samapai empat buah, ruminansia satu, babi dua sampai tiga buah, kucing empat-tujuh, anjing delapan-20 buah dan manusia 13-24 buah.

Ø Sinus puting Susu : Epithel silindris atau kubis dua lapis, selaput lendir membentuk lipatan melingkar dan longitudinal, dengan jaringan limferetikular pada tunika propria.

Ø Stingter puting susu : otot polos yang tersusun melingkar antara propria sub-mukosa dan hipodermis, sering pula tampak otot yang tersusun memanjang.

Ø Kulit puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis bertanduk, korium terdiri atas serabut kolagen pekat seperti kulit. Hipodermis relatif tipis.

2.4 Kelenjar Kulit Khusus

Kelenjar kulit khusus perlu kita kenali karena mempunyai peranan klinis yang cukup penting. Kelenjar tersebut antara lain :

a.Glandula Anales.

Pada babi sekreta bersilat mukus sedangkan pada anjing berbentuk lemak bermuara diluar zona kolumnaris ani didaerah zona intermedia. Pada daerah peralihan anus dan rektum babi dan karnivora membentuk zona kollmnaris ani dengan jaringan limfoid dan fleksus venosus.

b.Sinus Paranales (anal sac)

Terdapat pada ujung dinding lateral dubur, berbentuk kantong berisi sekreta mirip lemak berwarna kelabu dan busuk. Kantong ini mempunyai epithel pipih banyak lapis dan pada tunika propria terdapat kelenjar, folikel getah bening, otot polos dan jaringan pengisi yang bersifat fibroelastis.

c.Glandula circumanales

Kelenjar ini jelas terdapat pada anjing. Terdapat dua macam yakni superfisial berbentuk kelenjar palit dengan alat penyalur pada folikel rambut dan profundal bersifat non subaseus membentuk lobulus dengan sel poligonal, berinti pucat. Butir sekretanya mengandung protein yang nantinya membentuk sekreta bersifat mukus.

d.Glandula tarsalia (Kelenjar Meibom)

Terdapat pada kelopak mata yang lebih subur pada kelopak mata atas. Disekitar alat penyalur terdapat lobulus yang mengelompok menghasilkan sekreta berbentuk lemak didaerah pinggir palpebra yang berfungsi mengurangi pengeluaran air mata.

e.Glandula preputiales

Berbentuk kelenjar kulit pada bagian dalam prepusium. Kuda persebaran kelenjar ini berbentuk cincin. Pada babi terdapat sakus prepusialis yang memiliki papil dengan banyak folikel getah bening. Pada manusia kelenjar ini dikenal sebagai kelenjar Tyson yang menghasilkan smegma berbentuk keju.

f.Glandula uropigealis

Satu-satunya kelenjar kulit yang terdapat pada ayam (unggas), letaknya dibagian dorsal pada ruas ekor terakhir. Terdapat sepasang, pada unggas air pertumbuhan kelenjar ini lebih subur. Sekretanya berfungsi melicinkan bulu.

TURUNAN KULIT

3.1 Rambut

Merupakan serabut epidermis yang telah bermodifikasi. Rambut juga melakukan fungsi sebagai alat penutup, pelindung dan penerima rangsangan. Rambut berkembang sebagai penebalan setempat epidermis, selanjutnya mengadakan invaginasi kedalam lapisan jaringan ikat dan kemungkinan meluas sampai ke hypodermis.

Istilah rambut dan bulu untuk hewan memang sering dipakai tetapi istilah bulu dikhususkan untuk bangsa unggas. Hampir seluruh permukaan tubuh hewan dibungkus rambut, kecuali pada beberapa tempat tertentu, seperti : daerah moncong termasuk hidung, telapak kaki, daerah mukokuteneus.

Secara morfologis rambut terbagi atas :

Ø Batang rambut : Bagian rambut yang tampak dari luar, bertanduk dan berpigmen terdiri atas : kutikula rambut, berbentuk epithel pipih bertanduk dengan sisa inti yang tampak. Medulla : jumlah sel nya sedikit mengandung pigmen tapi banyak mengandung butir tikhohialin.

Ø Akar rambut dan Follikel rambut Follikel rambut merupakan invaginasi epidermis dan korium, dibagian tengah menjulur papil rambut dan dibedakan atas : Selubung akar dalam (kutikula, lapis huxley, lapis henle), Selubung akar luar, Lapis basal (Glassy membrane)

Ø Pada follikel rambut bertaut otot polos yang disebut “musculus arrectores pilorum” yang berfungsi menegakkan rambut atau bulu pada saat marah atau ketakutan (ayam dan angsa).

Rambut Sinus

Rambut sinus mirip dengan rambut biasa, hanya lebih besar dan folikel rambutnya terdapat anyaman pembuluh darah. Pada ungulata membentuk trabekula pada karnivora bentuk trabekula tidak tampak pada daerah superfisial sedangkan bagian propundal pembuluh darah sinus relatif kecil demikian juga pada babi.

Siklus Rambut

Dibedakan atas tiga tahapan yakni : anagen, katagen dan telogen. Anagen adalah periode dimana rambut telah tumbuh sempurna, yakni didahului dengan aktifitas mitosis sel kecambah dan sel kerucut rambut. Periode katagen ditandai dengan perubahan secara perlahan dalam kerucut rambut. Sel kecambah berkembang dibawah rambut, batang bentukkan ini menandai periode telogen yang mungkin bertahan selama beberapa minggu. Jadi mitosis yang berkelanjutan akan memanjangkan rambut.

3.2 Bulu

Bulu berasal dari epidermis dan mirip dengan rambut pada manusia, berkembang dalam folikel. Bulu dalam hal ini adalah bulu ayam. Bulu ayam hampir menutupi seluruh tubuh kecuali paruh, balung, pial dan kaki.

Pada ayam dikenal tiga yakni :

a. Bulu bentuk (contour feather) : Bulu elar (untuk terbang) Bulu ekor (mengatur keseimbangan waktu terbang / remics)

Remices primer : tumbuh dari daerah karpal dua, tiga dan digit.

Remices sekunder : tumbuh dari daerah sayap dan selebihnya.

b. Bulu bawah (plumae) : lebih kecil dan halus

c. Bulu halus (fitoplumae) : lebih halus dari plumae

Follikel bulu ayam menembus kulit secara miring, tertanam dalam sampai subkutis disebabkan karena bentuk bulu yang cukup besar.

Secara umum bagian bulu sebagai berikut :

a. Tangkai

Calamus : bersifat tembus cahaya dan berongga berisi udara

Rachys : merupakan axis dari vekillum

b. Sayap (Vexillum / vane) : berbentuk lamel yang langsing, tumbuh secara berpasangan dis : Barbs. Dari barbs tumbuh lamel berpasangan yang lebih halus dis : Barbules. Barbules yang keluar dari tiao barbs membentuk jalinan sehingga sayap cukup rapat dan elastis yang menguntungkan waktu terbang.

3.3 Kuku

Terutama untuk karnivora disebut : kuku, teracak untuk ruminansia dan sepatu kuku untuk kuda. Daerah kuku dikenal adanya epidermis (kuku sebenarnya), korium (pododerm) dan sub kutis.

Sayatan melintang dinding sepatu kuku dapat dibedakan atas :

a. Stratum tektorium : Merupakan ratis kuku yang paling luar dan tipis, bentuk sel sudah lenyap lebih-lebih pada kuku tua. Terdiri atas buluh tanduk yang masih lunak dan tidak berpigmen.

b. Stratum medium : Bagian kuku yang paling tebal, keras kuat karena padat. Didalamnya terdapat buluh tanduk yang mengandung bahan tanduk. Tiap buluh tanduk mengandung bagian korteks dan medulla. Stratum germinativum pada ujung dua papil didaerah kroon membentuk buluh tanduk, sedang selebihnya membentuk bahan tanduk intertubuler yang tumbuh kearah distal. Daerah ini berpigmen.

c. Stratum lamellatum : Pada kuku yang masih hidup dikenal adanya : lamel epidermal yang merupakan kuku sebenarnya dan lamel korium yang merupakan pododerm.

Pododerm

Struktur pododerm berbeda dengan korium kulit, karena pada pododerm terdapat pembuluh darah besar. Pododerm banyak mengandung serabut kolagen dan elastis juga terdapat stratum papilare dan stratum reticulare. Didaerah koroner korium paling tebal, sebaliknya dipinggiran tipis.

Pododerm daerah dinding kuku membentuk lamine coriales, primer dan sekunder. Di bagian depan lamine relatif lebih subur dibandingkan dengan daerah belakang.

Teracak

Pada teracak bulb dan frog tidak ada sedangkan sol sangat kecil. Laminae epidermal sekunder tidak ada, sednagkan yang primer panjang, langsing dan kadang bercabang. Sedangkan kuku untuk karnivora mempunyai dinding kuku bilateral pipih, dan daerah pertemuan dermis dan epidermis pada garis tengah agak lunak.

3.4 Tanduk

Merupakan penjuluran o. frontale yang disebut posessus kornualis, berongga dan berhubungan dengan sinus frontalis. Epidermis membentuk stratum kornium yang tebal yang selanjutnya membentuk horn sheats dan didaerah akar tanduk berbentuk epikeras. Epikeras terdiri atas bahan tanduk lunak homolog dengan periopel kuku, pada tanduk terdapat buluh halus yang dibagian tengah memiliki unsur medulla.

Pada tanduk sering tampak cincin tanduk yang sering dihubungkan dengan perubahan periodik pertumbuhan terutama : kerbau dan domba. Sedangkan sisik, paruh dan taji pada ayam secara garis besarnya memiliki struktur mirip kuku.

Perbaikan Kerusakan Kulit

Kulit merupakan subyek dari berbagai tipe luka atau kerusakan keutuhan anatomi abrasi, kontusio, laserasi punstio dan insisi. Perbaikan kulit merupakan hal yang komplek dan dinamis dan aktivitas selular diawali dari luka dan persambungan pada seluruh jaringan yang terluka. Walaupun perbaikan luka menggambarkan persambungan dari aktivitas sel secara keseluruhan, untuk membahas proses perbaikan ini dibagi atas beberapa tahap, yakni : perlukaan, induksi, inflamatori dan tahap maturasi.

Yang terlihat dalam perbaikan kulit adalah epidermis, dermis dan hypodermis. Kebanyakan proses abrasi ringan pada epidermis tanpa kerusakan dermis umumnya mampu diperbaiki melalui aktivitas mitosis stratum basale epidermis.

Friday, March 20, 2009

8. Histologi Sistem Genetalia

Sistem genitalia atau alat kelamin merupakan alat reproduksi yang memegang peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Dibedakan atas : sistema genitalia maskulin dan sistema genitalia feminin.

A. Sistem Genitalia Maskulina

Terdiri atas testis, alat penyalur, kelenjar asesorius, genitalia eksterna, Testis setelah mencapai umur dewasa dan dibawah pengaruh hormon gonadotropin hipophisa menghasilkan spermatozoa. Setelah kastrasi hewan menjadi impotent dan terjadi perubahan yang disebabkan hilangnya hormon testosteron dari testis.

1. TESTIS

Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang cukup tebal disebut : Tunika albuginea dan sebuah lapisan peritoneum Tunika vaginalis viseralis. Tunika vaginalis dibentuk oleh jaringan ikat kolagen yang miskin akan vasa darah dan elemen elastis, permukaan bebasnya tertutup mesothelium, sedangkan permukaan yang lain melekat pada tunika albuginea. Tunika albuginera sebaliknya kaya akan vaskularisasi, pada bagian tertentu yang disebut stratum vaskulare sangat kaya vaskularisasi.

Pada tempat melekatnya epididimis pada testis, tunika albuginea berhubungan dengan mediastinum testis, yaitu suatu tali jaringan ikat yang memanjang sepanjang axis memanjang dari testis. Pada karnivora dan babi melepas helaian jaringan ikat dan pada ruminansia tali jaringan ikat secara radier ke tunika albuginea, jaringan ikat tersebut disebut Septula testis, yang membagi testis menjadi lobuli testis yang berbentuk piramidal atau konus. Mediastinum testis mengandung labirinth, ruang yang lebarnya tak menentu berhubungan satu dengan yang lain disebut rete testis.

Pada jaringan interstitial disekitar tubulus seminiferus tidak ditemukan otot dan sperma di testis bersifat non motil. Gerakan mereka pada tubulus disebabkan oleh tekanan sekretorik dan tekanan internal dari testis, gerakan ini juga dibantu oleh cairan yang mungkin dihasilkan oleh sel sertoli.

Pada kuda tunika albuginea kaya akan serabut otot polos yang berasal dari m kremaster internus dan melanjutkan diri ke septula testis. Suatu mediastinum dari rete testis yang padat tidak ada tetapi seluruh testis dilintasi oleh septa tebal yang berhubungan satu dengan yang lain. Pada tali jaringan ikat yang tebal disamping vasa darah ditemukan pula duktus pengganti rete testis. Pada folus kranialis testis mereka berdekatan satu dengan yang lain dan melanjutkan diri ke duktuli efferentes.

Parenkim testis terdiri atas tubulus seminiferus, yang dibungkus jaringan ikat halus. Jaringan ikat interstitial kadang menunjukkan struktur/lamelar yang banyak mengandung vasa dan nervi. Sel interstitial yang diduga menghasilkan hormon testosteron ditemukan tunggal atau bergerombol. Sel ini ditemukan dalam jumlah yang besar pada babi dan kuda (sel interstitial).

Tubulus Seminiferus

Dinding tubulus seminiferus dibatasi oleh sel epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu : Sel penyokong dan sel spermatogenik. Sel penyokong atau sel sustentakulum disebut juga sel sentroli, sedangkan sel spermatogenik ada beberapa tipe yang berbeda morfologinya antara lain : spermatogenia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa. Tiap sel sentroli melekat pada lamina basalis, sedangkan sel sprematogenik tersusun secara tradisional. Sel yang muda terletak dekat membrana basalis, semakin mendekati lumen, umur sel makin tua.

Sel Sertoli

Bentuk tinggi langsing seperti segitiga dengan basisnya melekat pada membrana basalis, ujungnya mencolok keluar, inti sel terletak pada basal. Struktur histologi menunjukkan adanya gambaran mitokhondria yang memanjang sejajar dengan axis panjang sel, fibril tetes lemak dan kadang ditemukan granula lipofasia. Dengan EM dapat ditemukan bangunan berupa kristal terbentuk kumparan yang disebut: Kristaloid Charcot Bottcher (sel sertoli manusia). Susunan kimia dan kegunaan fisiologi nya belum diketahui. Filament yang halus dan mikrotubulus yang tersusun sejajar dengan axis panjang sel sering dapat ditemukan, RER jarang tetapi SER ditemukan lebih banyak.

Sel sertoli melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan mungkin berperan penting dalam memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Sel sertoli yang kelihatan mengalami mitosis, tetapi mereka lebih tahan terhadap panas, radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik.

Spermatogonia

Panjangnya bervariasi antara 50-75 m, terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Pembagian nya didasarkan atas perbedaan diameter. Dengan mikroskop cahaya perbedaan struktur internanya tidak jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan struktur interna nya jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Midle piece berbentuk silindris panjangnya lima sampai tujuh m, tebalnya mencapai 1 m. Bagian ini timbul dari polus pasterior dari caput yaitu pada bagian yang mempunyai struktur mirip dengan cincin Annulus. Principal piece panjangnya kira-kira 45 m dengan tebal 0,5 m, makin keujung makin mengecil membentuk end piece.

Spermatogonia terdapat diatas satu sampai dua lapis membran basal. Sel induk ini bersifat mitosis aktif, jadi sering terlihat bentuk pembelahan sel. Menurut penelitian dibedakan adanya spermatogonia tipe A dan B. Tipe A terdapat langsung pada membran basal dan tipe B diatas tipe A. Tipe A membelah secara mitosis menjadi tipe A dan tipe B, tipe B inilah yang menumbuhkan spermatosit primer.

Sel pada lapis berikutnya lebih besar diameternya, intinya lebih besar serta lebih banyak mengandung khromatin disebut : sprematosit primer. Selanjutnya sel ini mengalami meiosis dan pada pembelahan pertama menghasilkan sel yang lebih kecil disebut : spermatosit sekunder.

Umur sel tersebut pendek karena segera mengalami pembelahan kedua (mitosis) menjadi spermatid, dari satu sel spermatozoa menjadi empat spermatid yang secara morfologis identik, tetapi gen yang dikandung dapat berbeda. ukuran sel kecil inti miskin kromatin dan sentriole masih tampak. Dalam tahap spermatositogenesis, spermatid selanjutnya mengalami tahap transformasi, berubah dari bentuk sel menjadi spermatozoa yang memiliki kepala, leher, badan dan ekor. Spermatozoa yang berkembang ini tampak membenamkan kepalanya kedalam kutub bebas sel sertoli.

Tahap transformasi (spermiogenesisi) dikenal adanya 4 tahap yakni : Tahap golgi (golgi phase), tahap tudung (cop phase), tahap akrosom (acrosomal phase) dan tahap pemerahan (maturation phase).

Sel Interstitial

Parenkim testis yang terdiri atas tubuli seminiferi dibalut oleh jaringan ikat halus yang dikenal sebagai jaringan ikat interstitial. Didalamnya ditemukan pembuluh darah saraf, sel interstitial (sel leidig). Sel ini umumnya mengelompok dan mengitari pembuluh darah, terlihat jelas pada kuda dan babi. Bentuknya tidak teratur, berdiameter 10-15 m, inti besar, kromatin bulat dan nukleus jelas.

Dalam sitoplasma sering terdapat apparatus golgi, smooth E.R mitokhondria, butir-butir lipoid, kristal protein (kuda dan kucing) dan pigment. Pada manusia kristal tersebut cukup besar dan semakin tua semakin banyak jumlahnya.

Fungsi sel leidig menghasilkan hormon testosteron yang berfungsi :

Ø mengatur aktivitas kelenjar assesorius, terutama kelenjar prostat.

Ø Memelihara tanda khas jantan (secondary sex characteristics)

Ø Bersama dengan hormon FSH dan Hiphofisa mengatur aktivitas spermatogenesis.

Hormon LH atau ICSH mengatur aktivitas sel leidig pengaruh ini semakin jelas bila sekaligus ditambah dengan FSH. Di dalam tubuh hewan memang terjadi inter-relasi antara kelenjar endokrin tertentu dalam mengatur aktivitas alat reproduksi, misalnya kelenjar hipophisa, adrenal dan testis sendiri.

Pada kasus kastrasi (pengebirian) yang berarti menghentikan aktivitas testis, menyebabkan kelenjar asesorius mundur aktivitasnya, sifat khas jantan berangsur hilang dan kegiatan spermatogenesis berhenti. Hormon gonadotropin akan mengepul pada pars distalis hipofisa akibatnya sel basofil mengalami perubahan identitasnya selanjutnya dikenal dengan castration cells. Kastrasi yang dilakukan sebelum dewasa kelamin, tanda khas jantan tidak akan timbul. Bila kastrasi dilakukan setelah dewasa kelamin, maka perubahan kehilangan tanda khas jantan akan berlangsung secara lambat. Mungkin ini disebabkan karena korteks adrenalis dapat sedikit menghasilkan hormon testosteron. Tumor pada kelenjar prostat pada hewan tua, lazimnya diberikan terapi dengan melalui kastrasi.

Air mani sering disebut sperma atau semen, terdiri dari campuran spermatozoa dan sekresi kelenjar asesorius dan epididimis. Sekreta kelenjar selain sebagai pengangkut (vesicle), juga bekerja sebagai pembawa makanan serta mengaktifkan gerakan spermatozoa. Kandungan hialuronidase dalam air mani yang cukup tinggi diduga terdapat pada kepala dari spermatozoa, enzim mana yang diperlukan pada proses pembuahan, khususnya untuk merusak selaput sekunder dari ovum.

2. ALAT PENYALUR.

Alat penyalur spermatozoa dimulai dari : Tubuli rekti, Rete testis (terdapat dalam testis), Duktuli Efferentes Testis,Duktus epididimis (terdapat dalam epididimis), Duktus deferens, Urethra (pars pelvina dan pars penis).

a. Tubuli (seminiferi) rekti

Berupa saluran pendek yang terdapat pada lobuli testis, epithelnya kubis sebaris dan berdiri pada membran basal. Pada daerah peralihan antara tubuli rekti terdapat daerah dengan banyak modifikasi dari sel sertoli. Di daerah ini tidak lagi terdapat proses spermatogenesis.

b. Rete Testis

Berupa saluran atau rongga saling berhubungan dalam mediastinum testis. Saluran tersebut dibalut oleh epithel pipih selapis atau kubis rendah, sedangkan mediastinum testis merupakan kondensasi dari stroma testis yang mengandung pembuluh darah dan saraf. Otot polos belum terdapat pada mediastinum testis.

c. Duktuli Efferentes Testis

Pada kutub kranial mediastinum testis terdapat sekitar 6-12 saluran disebut : Duktuli efferentes testis. Saluran tersebut awalnya lurus tetapi setelah memasuki epididimis menjadi berkelok membentuk spiral. Daerah pemasukan dikenal dengan vascular cone yang menghadap testis dan merupakan caput epididimis (kuda) atau sebagian dari padanya pada hewan lain.

Duktuli efferentes memiliki epithel silindris sebaris dengan dua macam sel, yakni : sel basilia (kinocilia) dan sel tanpa silia dengan banyak butir sekreta di dalamnya, sel ini menunjukkan aktivitas bersekresi. Epithel berdiri pada membran basal, bagian yang telah ada dalam caput epididimis, mulai terdapat otot polos diluar membran basal. Sekreta dari sel tersebut diatas diduga berperanan dalam proses pendewasaan dari spermatozoa dalam epididimis.

d. Duktus Epididimis

Duktuli efferentes dalam epididimis secara perlahan memiliki epithel silindris banyak lapis bersilia (stereocilia), lumen semakin besar dan dinding semakin tebal dengan bertambahnya lapisan otot polos. Dalam epididimis saluran tersebut selanjutnya disebut : Duktus epididimis. Sel basal dari epithel banyak lapis mengandung butiran lemak (babi dan ruminansia), sedangkan sel atas silindris tinggi dengan stereosilia. Semakin menuju kauda epididimis, ukuran epithel semakin rendah, lumen semakin berkelok-kelok dan otot polos semakin tebal.

e. Epididimis

Sering disebut anak buah pelir, letaknya sangat berdekatan dengan testis. Secara anatomis terdiri atas caput, korpus dan kauda epididimis. Epididimis terdiri atas jaringan ikat mirip tunika albuginea sebagai stroma dengan mengandung otot polos (jelas pada kuda) didalamnya terdapat saluran yang merupakan parenkhim, yakni duktulis efferentes dan duktus epididimis.

Fungsi epididimis : Menyimpan sementara spermatozoa, khususnya didaerah kauda epididimis dan diduga disini terjadi proses pendewasaan. Gerakan spermatozoa mulai tampak, tapi dalam tubuli seminiferi jelas belum ada gerakan. Spermatozoa yang telah melalui epididimis memiliki potensi untuk membuahi ovum. Spermatozoa yang tidak melewatinya daya pembuahannya sangat kecil.

f. Duktus Deferens

Berupa saluran tunggal yang keluar dari kauda epididimis. Pada hewan besar saluran ini cukup panjang keluar dari epididimis membentuk Funikulus spermatikus (Spermatic cord) di daerah leher skrotum, selanjutnya masuk rongga perut menuju uretra dalam rongga pelvis.

Duktus deferens dibagi menjadi dua bagian, yakni : bagian yang tidak berkelenjar disebut : Duktus deferens dan bagian yang berkelenjar disebut : Ampulla. Selaput lendri membuat lipatan longitudinal, dengan epithel silindri sebaris atau dua baris, berdiri pada membran basal. Tunika propria terdiri dari jaringan ikat dengan banyak sel dan serabut elastis, bagian ini langsung bersatu dengan sub-mukosa dan keduanya disebut propria mukosa. Tunika muskularis cukup tebal, dengan bagian yang memanjang, melintang dan miring. Pada babi dan domba lapis sirkuler tebal terletak disebelah dalam sedangkan lapis memanjang tipis, tetapi pada sapi, kuda dan karnivora lapisan otot polos saling membuat anyaman, sehingga tidak membentuk strata yang jelas. Tunika adventitia atau serosa terdapat paling luar, pembuluh darah, saraf, jaringan limfoid dan otot polos sering tampak di bagian ini. Ampulla akan dibahas nanti pada kelenjar asesorius.

g. Funikulus Spermatikus

Bagian ini berbentuk buluh, dibalut oleh peritonium. Didalamnya terdapat duktus deferens, pembuluh darah, saraf dan berkas otot polos. Pada kasus pengebirian secara tertutup yang dirusak selain duktus deferens juga arteri (a. Spermatika). Pengebirian ini lazim dilakukan pada hewan besar (sapi atau kerbau) sebelum menginjak dewasa kelamin, sebagai ternak daging.

h. Uretra

Uretra hewan jantan cukup panjang, dibagi menurut letaknya, yakni : Uretra pars prostatika, uretra pars pelvina dan uretra pars penis. Jadi delaslah bahwa bangun uretra tergantung pada letaknya dalam tubuh, meskipun demikian terdapat bangun umum tetap.

Selaput lendir membuat lipatan memanjang, disusun atas epitelnya banyak lapis dan peralihan. Pada permukaan, epithel tidak teratur sering membentuk prosesus disebut Lakuna dari Morgagni. Pada tunika propria banyak terdapat pembuluh darah, khususnya pembuluh darah venosus yang membentuk korpus uretralis (kelenjar littre). Lapis paling luar adalah lapisan otot polos, diikuti otot kerangka dalam membentuk muskulus retralis.

Kolikulus seminalis adalah kelanjutan dari kresta uretralis yang terjadi dari vesika urinaria. Bagian ini merupakan tempat permuaraan duktus defferent dan vesika seminalis. Mukosa mirip dengan uretra, pada kucing dan babi sering terjadi gangglia di daerah ini. Uretra prostatikus atau uterus maskulina terdapat di daerah kolikus prostatikus atau uterus maskulinus terdapat di daerah kollikulus seminialis, sering tampak pada hewan piara, khususnya jelas pada hewan besar. Uritrikulus prostatikus merupakan ujung saluran Muller yang homolog dengan uterus dan vagina pada hewan besar.

Uretra pars penis berbeda dengan uretra pars pelvina, yakni lebih sedikit mengandung kelenjar tetapi banyak mengandung serabut erektil. Di luar lapisan otot terdapat tunika albuginea yang merupakan suatu jaringan ikat fibrus banyak mengandung serabut elastis, khususnya pada penis tipe kaverneus.

3. Kelenjar Asesorius (Glandula genitales asesorius)

Kelenjar asesorius pada hewan jantan memiliki ciri umum :

Ø Kelenjar bermuara pada uretra

Ø Pada stroma (kapsula jaringan ikat interstitial, trabekula, septa) sering terdapat otot polos, kontraksi otot tersebut dapat mendorong skreta, khususnya pada proses ejakulasi.

Ø Kelenjar berbentuk tubulus bercabang dengan lobulasi cukup jelas. Ada bagian ujung kelenjar yang meluas membentuk sinus koligentes sebagai penampang sekreta.

Ini sekedar ciri umum, sudah tentu terdapat beberapa perbedaan untuk setiap jenis hewan. Keempat kelenjar assesorius tidak semuanya terdapat pada setiap hewan jantan, kalaupun ada pertumbuhannya tidak selalu subur.

Keempat kelenjar asesorius tersebut adalah :

a. Ampula (ampula duktus defrentis)

b. Kelenjar vesibulares (glandula vesikulares)

c. Kelenjar prostat (glandula prostat)

d. Kelenjar bulbo-uretralis (glandula bulbo-uretralis)

Hormon testosteron sangat berpengaruh terhadap kesuburan kelenjar asesorius dan ciri khas kelamin jantan (secondary sex characteristic). Kastratsi sebelum datangnya dewasa kelamin menyebabkan perkembangannya kelenjar tersebut berhenti, sedangkan kastrasi pada umur dewasa menyebabkan kemunduran secara bertahap kelenjar asesorius. Secara histologi telah dibuktikan bahwa sel kelenjar mengecil dan aktivitas bersekresi mundur. Selanjutnya parenkim kelenjar mengalami involusi dan digantikan dengan jaringan ikat.

a. Ampula.

Kelenjar ampula anjing menjulur sampai permulaan dari uretra, kucing tidak memiliki ampula. Diantara hewan besar seperti babi memiliki ampula paling kecil, kelenjarnya sedikit dan terbesar pada dindingnya. Sapi, kerbau, domba dan kuda pertumbuhan ampula cukup subur.

Struktur histologi ampula ditandai dengan menebalnya selaput lendir (mukosa) disebabkan adanya kelenjar. Kedua ampula melewati bagian ventral dari korpus prostat dan bersama dengan glandula vesikulares bermuara kedalam uretra pada kolikulus seminalis.

Kelenjar bersifat tubulus bercabang, mirip dengan glandula vesikulares dengan ujung kelenjar yang meluas mirip suatu kantong. Epithelnya berbentuk silindris sebaris, tinggi rendahnya epithel tergantung dari aktivitas kelenjar tersebut. Dalam lumen kelenjar sering tampak spermatozoa (slides), bahkan sering dilaporkan adanya konkremen yang dapat berkapur (kuda dan ruminansia). Kelenjarnya tidak memiliki saluran yang jelas sehingga ujung kelenjar tampak langsung berhubungan dengan lumen dari ampula.

Tunika muskularis tersusun secara sirkuler dan longitudinal, dimana pada ruminansia saling beranastomose, lapis paling luar adalah tunia adventitia atau serosa.

b.Glandula vesikulares

Glandula ini jumlahnya sepasang, pada sapi cukup subur dan membentuk lobulasi yang jelas. Pada kuda dan manusia berbentuk memanjang dan mengantong. Babi, domba dan kambing pertumbuhan glandulanya cukup baik. Tetapi anjing dan kucing tidak memiliki glandula vesikulares. Pada sapi saluran glandula tersebut bersatu dengan saluran ampula membentuk kedua Ostea ejakulatoria yang bermuara kedalam uretra. Bentuk uretra ini bisa berbeda antara jenis hewan satu dengan yang lainnya.

Struktur histologi glandula, terbagi dalam lobulus, dipisahkan satu dengan yang lain dengan trabekula atau septa yang mengandung otot polos, pada ruminansia septa cukup tebal. Dalam tiap lobulus terdapat ujung glandula yang paling luas lumennya, sebagai penampung sekreta disebut Sinus Colligentes. Epithel dari ujung kelenjar berbentuk silindris sebaris, tetapi bagi saluran yang cukup besar dan terdapat diluar lobulus, epithelnya banyak lapis. Pada lumen ujung glandula, khususnya sinus koligentes sering terlihat spermatozoa maupun kristal.

c. Glandula prostat.

Glandula ini jumlahnya sebuah, terletak pada pangkal uretra di daerah leher vesika urinaria. Pada berbagai hewan piara bentuknya tidak sama, secara umum terdapat bagian yang disebut : Corpus prostate dan Pars dissiminata prostate atau pars dissiminata. Istilah korpus prostata hanya tepat untuk babi dan sapi bukan domba dan kambing. Korpus ini kecil posisinya dorsal dari uretra dekat vesikula urinaria.

Pars disiminata prostata praktis terdapat pada semua hewan piara kecuali kuda, terdiri atas lobus dekstra dan sinistra dan istmus. Pada ruminansia terdiri atas pars disminata, glandulanya tersebar hampir sepanjang pars uretra dan pars pelvina. Pada kuda dan karnivora korpus prostata besar dengan glandula yang subur, sebaliknya pars disminata sedikit dan tersebar sebagai kelenjar littre. Pada anjing glandula prostat mengelilingi permulaan uretra. Hewan yang memiliki pars disminata yang subur, kelenjarnya dibalut oleh muskulus uretralis yang terdiri atas otot kerangka kecuali daerah ujung kranial dari korpus prostata.

Struktur histologi parenkhim glandula berbentuk tubulus majemuk. Stroma yang terdiri dari kapsula, trabekula dan jaringan interstitial mengandung otot polos. Epithel berbentuk silindris rendah tergantung pada aktivitas kelenjarnya dan didalamnya banyak terdapat butir sekreta. Intersellulaer skretorikanalikuli sering tampak pada sapi dan kuda. Sekresi kelenjar bersifat apokrin adakalanya epithel terlepas bersama bercampur dengan sekreta, yang diduga menyebabkan terjadinya konrement dalam lumen sinus koligentus disebut Korpura amilasea (sympexionen), pada babi yang sudah tua sering ditemukan.

Pada rodensia sekreta kelenjar protat dan kelenjar cowper dapat merupakan penyumbat servik, khususnya bila fertilisasi telah terjadi. Mukus tersebut dapat menetralkan asam susu yang terdapat dalam vagina. Pada hewan piara sekreta yang bersifat encer dari glandula prostat dapat menaikkan motilitas dari spermatozoa.

d. Kelenjar Cowper (glandula bubo-uretralis)

Kelenjar cowper ini jumlahnya sepasang, terdapat pada semua hewan piara kecuali anjing. Kapsula bersifat fibrous murni pada sapi tetapi pada hewan lain mengandung otot polos. Jaringan ikat interlobuler yang membagi kelenjar menjadi beberapa lobulus mengandung otot polos. Hanya pada kuda disusun atas otot kerangka, di luar kapsula jelas terdapat otot kerangka.

Epithel kelenjar berbentuk silindris rendah, lumen ujung glandulanya besar, aspeknya mukeus dengan ujung kelenjar ada yang serous, perimbangannya tergantung jenis hewannya. Pada setiap lobulus terdapat sinus kelenjar sebagai penampung sekreta. Babi lumen ujung glandulanya meluas dengan sekreta kental, penting untuk memperkental air mani setelah ejakulasi. Sekreta kelenjar cowper bermuara kedalam uretra dan dianggap sebagai pembersih (lubrikan) uretra sebelum air mani lewat. pH sekitar 7,5-8,2 pada ejakulasi tak sempurna air mani sapi tak mengandung spermatozoa, cairan mana berasal dari kelenjar cowper dan mungkin sebagian dari prostat.

4. GENITALIA EKSTERNA

4.1 Penis

Penis dapat dibagi atas korpus dan glans. Korpus penis terdiri atas : Jaringan erektil korpus kavernosum penis, uretra yang dikelilingi oleh korpus kavernosum uretrae, muskuli bulbo-kavernosus dan retraktor penis. Ujung penis disebut gland penis, dimana pada beberapa spesies tidak begitu jelas.

Corpus Penis

Uretra dengan korpus karvenosum sudah dijelaskan diatas, korpus kavernosum yang membentuk korpus terdiri atas : Kapsula yang disebut tunika albuginea, berupa membran tebal terdiri atas jaringan ikat kolagen padat dan serabut elastis. Dari tunika albuginea dilepaskan trabekula yang berhubungan satu sama lain. Trabekula membentuk septum mediastinum yang hanya ditemukan pada radiks penis dari ruminansia dan babi, tetapi pada anjing ditemukan seluruh korpus. Pada kuda dan anjing septum tersebut tidak kontinyu, diantara trabekula terdapat jaringan erektil yang sebenarnya. Ini terdiri atas jala, lamela dan pita yang melanjut ke trabekula dan tunika albuginea dan ruang yang berukuran bervariasi dan berhubungan satu dengan yang lain disebut : Kaverna. Ruang ini terutama berjalan secara longitudinal (kecuali pada anjing) dan terbesar serta terbanyak pada kurra, di luar endothelium, dinding kaverna hanya dibentuk jala inter-kavernosa yang memuat vasa dan nervi. Pada ruminansia dan babi terdiri atas jaringan fibro-elastis, otot polos (anjing dan kuda). dan korpusadiposum yang tersebar. Pada bagian distal dan insertio m. Iskhiokavernosus, korpus kavernosum sapi mempunyai jaringan fibrosa dan berfungsi untuk membuat penis lebih kaku.

Vasa Darah

Pada manusia dan kuda terdapat jala kapiler pleksus korteks superfisial langsung dibawah tunika albuginea. Ini berhubungan dengan pleksus vena korteks profundal yang berhubungan dengan ruang kaverna dan jaringan erektil. Aliran darah arterial terutama berasal dari arteria provunda-penis yang masuk krura. Cabang dari arteria dorsalis menembus tunika albuginea. Arteri ini berjalan sepanjang trabekula melintasi sepanjang jaringan erektil. Berupa cabang memberikan kapiler ke albuginea dan trabekula sedang yang lain membentuk kapiler pada superfisial, cabang arteri yang lain berakhir pada pleksus profundal atau kelubang kaverna secara langsung.

Arteri helisina membentuk cabang dan berkelompok dua sampai sepuluh, selanjutnya dibungkus dalam berkas oleh jaringan ikat, berjalan berkelok, dindingnya mengandung berkas otot polos longitudinal hingga arteri mempunyai penebalan seperti bantal. Ruang kaverna dan pleksus venosus yang provundal di aliri darah dari vena profunda penis dan vena dorsalis penis dan vena bulbo-uretralis.

Mekanisme Ereksi

Adanya perasaan erotik maka saraf parasimpatis terpacu dan menyebabkan relaksasi otot polos pada arteri dan korpus kavernosum, akibatnya darah mengalir ke arteri dan teregang, ruang kaverna terisi darah arterial dan ruangan membesar. Pembesaran ruangan ini menyebabkan vena besar yang berdinding tipis tergencet hingga darah sulit meninggalkan melalui vena. Darah yang mengumpul di korpus kavernosum dengan tekanan yang makin meninggi dan menyebabkan organ mengeras. Pada saat ini a.helisina yang jalannya bekelok-kelok, secara pasif teregang dan menjadi lurus.

Setelah ejakulasi pengaruh saraf simpatis lebih dominan dan otot polos kembali pada tonusnya, aliran darah normal kembali, darah yang tertinggal dalam korpus kavernosum tertekan masuk kedalam vena karena kontraksi otot polos trabekula dan kerutan kembali jaringan elastis. Penis kembali kebentuk yang normal.

Glans Penis

Kaya akan vaskularisasi dan beberapa spesies mempunyai bangunan erektil yang sebenarnya dan membentuk bangunan yang melebar disebut : Glans penis, bangunan ini hanya jelas pada manusia, kuda dan anjing. Pada anjing glans penis merupakan bangunan erektil yang pokok. Glans tertutup oleh preposium, preposium terbungkus oleh kulit, kaya akan nervi dan ujung saraf.

Jaringan erektil glans terpisah dari korpus kavernosum penis, kecuali pada babi. Jaringan ererktil ini berhubungan dengan korvus kavernosum-uretrae. Bulbus glandis anjing adalah suatu korvus kavernosum yang tebal, kaya jaringan elastis dan serabut otot. Pada karnivora glans membungkus os. penis, membentuk sebagai jaringan tulang pada ujung korvus kavernosum penis. Pada kuda, kambing dan biri-biri uretra muncul dari ujung penis membentuk prosessus uretralis dan terbungkus jaringan kaverna yang tipis. Pada kuda bagian ini kaya jaringan limfatik. Pada kucing sarung kulit glans mempunyai spina kecil dan mengalami kornifikasi pada ujungnya. Kuda dan anjing juga ada tetapi lebih kecil.

4.2 Prepusium

Prepusium terdiri atas dua bagian yakni : Bagian exsternal yang merupakan kelanjutan dari kulit abdomen disebut : Pars parietalis dan pars viseralis, keduanya bertemu pada orifisium preputi. Pars parietalis terlipat kedalam dan ke muka pada forniks dan menutup ujung penis sebagai pars viseralis.

Pars eksterna mempunyai struktur sama dengan kulit, banyaknya rambut bervariasi tergantung spesies hewannya. Pars parietalis dihubungkan dengan lapisan luar dengan jaringan ikat yang banyak mengandung pembuluh darah dan otot polos yang berasal dari tunika dartos skroti dan berkas otot serat lintang (kecuali kuda dan anjing). Rambut dan kelenjar kulit hanya terdapat sedikit pada orifisium preputi. Glandula sebasea lebih banyak bermuara pada permukaan tidak pada polikel rambut.

Pada fornik terdapat evaginasi kulit, nodulus limfatikus terdapat lapisan parietal dari babi dan biri-biri, fornik sapi, anjing babi dan lapisan yang menutup glans penis sapi. Ujung saraf berupa bulbus terminalis dan korpus-ulum genitale terdapat lapisan viseral preputium semua hewan. Pada kucing terdapat juga korpus-kulum pasini.

4.3 Skrotum.

Terdiri atas integumentum kommunis dan tunika dartos. Kulit skrotum lebih tipis, rambut lebih sedikit dan kaya akan glandula. Terdapat glandula sebasea dan glandula kulit tubuler. Babi hanya berlandula kecil dan sedikit, dibagian dalam kulit skrotum melekat ke tunika dartos dengan perantara jaringan ikat longgar. Tunika dartos terdiri atas berkas otot polos yang arahnya tidak teratur serta serabut kolagen dan elasti. Pada babi ditemukan jaringan lemak, septum skroti dibentuk oleh berkas serabut otot.

B. Organa Genitalia Feminina

Alat reproduksi hewan betina terdiri dari :

1. Ovarium (alat kelamin primer)

2. Alat penyalur terdiri atas : Tuba fallopii dan fimbrie, Uterus, Serviks dan Vagina

3. Alat kelamin luar (genitalia eksterna) : Vestibulum, Labia-vulva dan Klitoris

1. OVARIUM

Jumlahnya sepasang, berada dalam rongga tubuh yang ditunjang oleh alat penggantung (mesovarium). Ukuran serta bentuk ovaria pada hewan muda dengan yang dewasa menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Ovaria dapat dianggap sebagai kelenjar ganda, yakni : Kelenjar eksokrin karena menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin karena pada periode tertentu menghasilkan hormon estrogen (folikel the graaf) progesteron (korpus luteum) dan relaksin (korpus luteum).

Struktur histologi bangun ovaria dewasa berubah-ubah tergantung pada siklus kelamin, tetapi bangun umum pada mamalia secara garis besarnya hampir sama, sedangkan pada kuda dan ayam agak menyimpang. Begitu pula bangun ovaria muda dan dewasa juga berbeda.

Strukutur histologi nya sebagai berikut :

Kapsula :

Ø Epithel kecambah (germinal epithelium). Pada hewan muda bangun epithel kubis atau silindris rendah tapi pada yang dewasa kubis rendah. Hampir seluruh permukaan ovaria dibalut oleh epithel kecambah, kecuali daerah hilus ovari yang dibalut oleh peritoneum. Pada kuda sebagian besar ovarium dibalut oleh peritoneum, hanya sebagian kecil disebut ovulation fossa dibalut oleh epithel kecambah.

Ø Tunika albuginea, disusun atas jaringan ikat kolagen tanpa serabut elastis dan retikuler, sedikit mengandung sel, letaknya langsung dibawah epithel kecambah.

Korteks :

Ø Disebut juga Korteks ovarii atau Zona parenchymatosa, letaknya dibagian perifer ovarium langsung dibawah tunika albuginea, kecuali pada kuda yang terletak di sebelah bagian dalamnya. Pada korteks terdapat stroma kortikalis dan parenkhim yang terdiri dari folikel pada berbagai stadia.

Ø Stroma kortikalis terdiri atas jaringan ikat yang banyak mengandung sel bebas serabut elastis. Serabut kolagen dan retikuler terdapat didalamnya. Sel stroma yang tersebar dan saling mengelompok, diduga bukan fibroblast melainkan sel khusus disebut sel interstitial. Sel tersebut mudah berdiferensiasi, prolifrasi dan menyimpan bahan lemak serta zat warna. Dalam keadaan darurat mampu berubah menjadi makrofag, ataupun menjadi sel glandula, misal pada teka interna dan korpus luteum.

Ø Pada hewan betina sel interstitial terlebih dahulu berdifrensiasi dan baru bersekresi. Stroma ovarii pada kuda sering mengandung sel berpigmen, tetapi semakin tua hewan semakin sedikit selnya. Pada stroma kortikalis tersebar follikel yang pada hewan dewasa terdapat pada berbagai stadia. Pada hewan multipara (anjing, kucing dan babi) follikel sering mengelompok, tetapi pada unipara (kuda, sapi dan kerbau) tersebar secara merata.

Penelitian yang dilakukan pada anjing menunjukkan bahwa pembentukan follikel berlangsung hampir sepanjang hidupnya, melalui invaginasi epithel kecambah menembus tunika albuginea.

Folikel primordial

Pada hewan yang baru lahir folikel seluruhnya adalah folikel premordial. Folikel yang belum memasuki siklus pada hewan dewasa sering disebut folikel premordial juga, untuk membedakan dengan folikel primer yang telah memasuki siklus. Folikel ini terdiri dari sel telur (oogonium) membran basal yang cukup tipis dan sel folikel (sel granulosa) berbentuk pipih selapis. Membran basal merupakan batas antara folikel dengan stroma kortikalis. Diameter oogonium 30-50 m, inti besar, aparatus golgi, mitokhondria dan endoplasmik retikulum yang jelas.

Folikel primer

Folikel ini telah memasuki siklus, dan dibawah pengaruh hormon FSH dari hiphofisa terjadi proses pertumbuhan. Pembesaran diameter dari seluruh komponen folikel disebabkan oleh perubahan pada : Sel telur yang membesar karena intinya sedikit membesar akibat kromatin bertambah, sitoplasma khususnya kuning telur (para plasma) bertambah secara bertahap sel telur yang sedang berkembang ini disebut oosit primer.

Ø Sel-sel follikel turut berkembang yang tadinya berbentuk pipih selapis, berubah menjadi kubis sebaris.

Ø Membran basal masih tetap tipis.

Folikel Sekunder

Periode ini disebut Growing follicle dibedakan tiga stadium, yakni :

1.Stadium permulaan

Oosit primer terus berkembang, sel folikel mulai berkembang biak sehingga tampak dua lapis. Di luar selaput vitelin mulai terjadi zona pelusida yang dihasilkan oleh sel folikel. Di sebelah dalam selaput vitelin kuning telur bertambah banyak, membran basal sedikit menebal. Penambahan diameter keseluruhan follikel, demikian juga oosit primer.

2.Stadium pertengahan

Perkembangan oosit primer terus berjalan, dengan bertambahnya kuning telur posisi inti yang sentris mulai bergeser agak ke tepi. Zona pelusida agak menebal dan sel folikel berlapis mencapai tiga sampai enam lapis. Membran basal agak menebal.

3.Stadium akhir

Perkembangan oosit primer berakhir, zona pelusida tebal. Sel follkel yang ada ditengah mulai tampak tanda degenerasi yang berakhir dengan hancur (lisis) sehingga terbentuk rongga sebagai permulaan dari antrum folikuli.

Folikel Tertier

Seperti halnya dengan follikel sekunder, stadium ini dibagi dalam 3 sub stadium :

1.Stadium permulaan

Perkembangan oosit primer telah berhenti, zona pellusia sudah cukup tebal. Sel-sel follikel yang mengitari zona pellusida mulai teratr letaknya. Pada waktu yang bersamaan sel follikel yang terdapat ditengah berdegenerasi, handur dan membentuk antrum follikuli yang baru. Antrum follikuli yang telah terbentuk mulai meluas dan berisi cairan Liquor follikuli. Membran basal tetap ada, sel-sel stroma diluar membran basal berdiferensiasi menjadi sel-sel theca folliculi.

2.Stadium pertengahan

Pada stadium ini diduga oosit primer telah memasuki stadium pemasukan pertama dan mengeluarkan benda kutub (polosit) pertama. Dengan demikian sel telur disebut oosit sekunder. Sel folikel yang langsung mengelilingi zona pelusida telah teratur letaknya disebut : Corona radiata. Diluar corona radiata, sel folikel selanjutnya disebut sel granulosa, membentuk dinding antrum folikuli. Dengan bergabungnya antrum folikuli dan bertambahnya liquor folikuli maka posisi sel telur terhadap folikel jadi semakin eksentris. Pertautan sel telur dengan dinding folikel berlangsung melalui susunan sel granulosa berbentuk tangkai disebut : Kumulus ooforus. Pada mamalia lazimnya hanya sebuah tetapi pada kelinci terdapat beberapa buah disebut : Retinakulum. Membran basal yang memisahkan sel granulosa dan sel teka folikuli, selanjutnya disebut: Membran skhalavianski. Teka foliculi terdiri atas : Teka interna dan teka eksterna. Teka interna terdiri disusun oleh jaringan ikat dengan sel epitheloid mengandung butiran didalamnya, diduga menjadi sumber hormon estrogen. Pembuluh darah banyak terdapat didalamnya berbentuk kapiler. Sebagian dari hormon estrogen memasuki pembuluh darah dan sebagian lain menembus sel jaringan ikat dengan sel memanjang mengelilingi folikel. Perubahan teka eksterna dengan stroma kortikalispun tidak jelas.

3.Stadium terakhir

Stadium ini sering dikenal sebagai : Folikel renier de graaf suatu folikel yang sudah siap mengalami ovulasi. Keadaannya hampir sama dengan substadium sebelumnya, hanya pada yang terakhir ini terdapat adanya stigma, berupa dinding folikel yang paling tipis yang nantinya akan pecah dan merupakan jalan keluar bagi oosit sekunder.

Follikel atretis (Korpora atretika)

Selama folikel primordial berkembang menjadi folikel de graaf banyak mengalami kematian. Kematian folikel pada berbagai stadia dimulai dengan degenerasi pada oosit yang disusul dengan sel granulosa. Sebaliknya sel teka ber frolifrasi menyerap sisa folikel dan selanjutnya mengisinya. Proses atresia berbeda untuk tiap jenis hewan. Secara mikroskopis tampak adanya masa sel yang mengandung lemak diantara folikel pada stroma ovari. Kasus atresia pada stadium muda lebih mudah lenyap dari pada stadium lanjut yang biasa memakan waktu agak lama. Ovulasi adalah: Peristiwa pecahnya folikel de graaf dan terlemparnya ovum dari ovarium. Oosit sekunder yang terlempar keluar selanjutnya ditangkap oleh fimbriae dari tuba falopii, kemudian menuju uterus.

Korpus Luteum

Korpus luteum (Yellow body) mulai terbentuk setelah folikel mengalami ovulasi, pembentukan ini berlangsung terus sampai sempurna, apabila terjadi kebuntingan (korpus luteum gravidiatatum), tetapi apabila tidak terjadi pembuahan pembentukan korpus luteum terhenti, sehingga terjadi korpus albikans atau korpus fibrosum, Korpus luteum periodikum albikans adalah bentuk degenerasi dari korpus luteum yang fungsional. Letaknya lebih dalam dan ukurannya besar, sehingga hilangnya lambat. Sel luteum masih tampak meskipun sedikit dengan butir sekreta didalamnya. Warna kuning disebabkan oleh adanya pigmen lutein yang terkandung dalam sel pembentuk parenkhim. Lutein terdapat pada korpus luteum kuda, sapi, karnivora dan manusia. Pada domba, kambing dan babi pigmen lutein tidak ada sehingga warna korpus luteum jadi putih kelabu. Korpus luteum tergolong kelenjar endokrin dan menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi memelihara kelangsungan kebuntingan.

Medula ovari

Sering disebut : Zona vaskulosa, karena banyak mengandung pembuluh darah. Stroma ovari di daerah medula berubah menjadi jaringan ikat fibro-elastis yang banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, terdapat pula otot polos yang berhubungan dengan muskulator dari ligamentum suspensorium. Adanya sel interstitial pada kucing dan rodensia diduga menghasilkan hormon ovarium. Didaerah pertautan mesobarium dilaporkan adanya sel yang mirip dengan sel interstitial hewan jantang yang disebut : Sel hilus yang menghasilkan androgen. Pada karnivora dan ruminansia dekat mesovarium sering terlihat sisa dari rete ovari, sisa mesonefros yakni efooforon dan parooforon. Sisa mesonefros tersebut berbentuk saluran berliku-liku dengan ujung yang buntu. Epithelnya pipih selapis, pada epooforon silindris bersilia keduanya kadang membentuk kista.

2. ALAT PENYALUR

2.1 Tuba Uterina (Salping, tuba falopii, oviduktus)

Pada mammalia terdapat sepasang yang berfungsi sebagai : Menangkap oosit sekunder yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi lingkungan yang baik untuk pembuahan dan menyalurkan oosit sekunder atau embrio menuju uterus.

Secara morfologis dibagi menjadi : Infundibulum dan fimbriae, ampulla dan istmus. Bangun umum ketiga daerahnya hampir sama hanya berbeda dalam struktur selaput lendirnya serta ketebalan lapisan otot.

Mukosa daerah ampula membentuk lipatan komplek dengan adanya lipatan primer, sekunder dan tertier. Semakin menuju uterus bentuk lipatan semakin sederhana dan rendah. Lamina epitelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, kecuali pada ruminansia dan babi yang memiliki daerah epitel silindris banyak baris.

Pada epitel terdapat dua macam sel yang berbeda, yakni : Sel yang memiliki silia yang aktif bergetar menjelang oosit lewat. Tipe sel ini menjamin kelancaran transport oosit embrio menuju uterus. Sel tanpa silia banyak mengandung butir sekreta didalamnya, diduga menghasilkan sekreta yang bersifat nutritif bagi embrio. Aktivitas epithel ini ternyata sejalan dengan aktivitas seluruh saluran kelamin meskipun tidak sehebat uterus. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak sel dan serabut retikuler. Serabut otot polos sering tampak didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar berbatasan langsung dengan mukosa sebab muskularis mukosa tidak ada.

Tunika muskularis pada lapis dalamnya tersusun melingkar dan lapis luarnya longitudinal. Diantaranya terdapat jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah yang dikenal sebagai stratum vaskulare. Pada bibir infundibulum atau fibriae otot polos hampir tidak tampak atau hanya soliter. Semakin menuju uterus lapis otot polos semakin jelas bahkan membentuk dua lapis yang berbeda susunannya.

Tunika muskularis dengan gerakan peristaltiknya bertugas mendorong oosit atau embrio menuju uterus. Serosa terdiri dari mesothelium dan subserosa. Serosa ini merupakan kelanjutan dari serosa yang membalut alat penggantung tuba uterina (mesosalpinx).

2.2 Uterus (= Rahim)

Bentuk uterus pada berbagai hewan piara tidak sama, hal ini berhubungan dengan perkembangan embriologi. Perbedaannya terletak pada derajat penyatuan bagian kaudal buluh Muller. Secara umum uterus dibagi dalam 4 bagian yaitu :

Ø Uterus simplex : uterus hanya satu, ditemukan pada primata (bangsa kera) termasuk manusia.

Ø Uterus dupleks (uterus bipartius) : tipe ini memiliki dua uterus yang terpisah, sehingga memiliki dua serviks yang masing-masing bermuara kedalam uterus. Tipe ini terdapat pada rodentia seperti : kelinci dan marmut.

Ø Uterus Bipartius : mempunyai dua buah kornu yang panjang, yang bersatu di daerah istmus dekat servik, kemudian bermuara pada vagina tunggal. Tipe ini terdapat pada : karnivora dan babi.

Ø Uterus Bikornis : Kornua uteri yang tidak begitu panjang, karena penyatuan korpus uteri berlangsung agak jauh dari servik. Servik hanya sebuah dan bermuara kedalam vagina. Tipe ini terdapat pada : kuda dan ruminansia.

Struktur histologi :

a. Endometrium

Istilah yang diberikan untuk mukosa dan submukosa, karena muskularis mukosa memang tidak ada. Lamina epithelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, pada babi dan ruminansia sering tampak adanya bentuk epithel silindris banyak baris.

Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung sel disebut Stratum selulare, dibawahnya terdapat lapis jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut : Zona spongiosa. Pada waktu birahi (estrus) zona spongiosa mengandung banyak cairan sehingga menggembung (edematus), sebaliknya setelah estrus pada ruminansia besar dan anjing sering terjadi perdarahan kecil dan berakhir pada diestrus.

b. Karunkula (carunculae)

Merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Dengan pewarnaan HE daerah ini kuat mengambil zat warna sehingga tampak jelas. Pada uterus yang tidak bunting karunkula ini kecil, tapi pada yang bunting sangat membesar, bahkan pada sapi dapat sebesar ketan, jumlahnya tidak tentu, berkisar antara 60-120 buah. Pada uterus bunting khorion melekat bahkan membenamkan vili kedalamnya.

Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan sedikit sel jadi jelas dapat dibedakan dengan tunika propria. Sebagian besar kelenjar dari uterus (glandula uterina) terdapat dalam submukosa khsusnya ujung kelenjar, sebagian alat penyalurnya terdapat pada tunika propria. Bangun kelenjarnya adalah tubulus sederhana dengan ujung kelenjar menggulung, keadaan kelenjar sangat dipengaruhi oleh siklus kelamin.

c. Myometrium

Sebagai pengganti istilah tunika muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang tersusun secara melingkar sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Diantaranya terdapat stratum vaskulare. Pada uterus yang pernah bunting stratum vaskulare ini memiliki pembuluh darah yang besar, lebih jelas dari uterus dara.

Perimetrium (serosa), lapis luar merupakan kelanjutan dari peritoneum (serosa) hanya saja sub serosa relatip tebal dan mengandung otot polos membentuk alat penggantung uterus (ligamentum lata uteri).

2.3 Servik.

Merupakan pintu gerbang antara uterus dan vagina. Bangun umum hampir mirip dengan uterus, selaput lendirnya (sesuai dengan peranannya) membentuk lipatan primer, sekunder dan tersier. Epithelnya silindris sebaris, tetapi bersifat sekretoris menghasilkan lendir. Beberapa sel tampak memiliki silia.

Tunika propria terdiri atas jaringan ikat longgar, dan pada waktu estrus bersifat odematus, pada submukosa terdapat kelenjar (anjing dan kambing), bersifat tubulus dan mukus. Tunika muskularis yang sirkuler tebal, bahkan berlapis-lapis dibatasi oleh jaringan ikat, lapis lungitudinal bersatu dengan vagina. Serosa merupakan kelanjutan dari uterus mengandung lebih sedikit sel otot polos tapi lebih banyak mengandung ujung saraf perifer.

Fungsi : servik uteri tertutup rapat pada waktu hewan bunting, disertai dengan lendir berwarna kuning yang mengental (mucusplug). Servik terbuka pada waktu partus atau sedang birahi.

2.4 Vagina

Vagina berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan dengan servik uteri dan dibagian kaudal adalah vestibulum vulva. Sebagian kecil (kranial) vagina terdapat dalam rongga perut yang dibalut oleh serosa, dan sisi selebihnya terdapat dalam ruang pelvis dibalut oleh adentitia.

Sebagaimana pada saluran kelamin yang lain, vagina pun mengikuti perubahan sesuai dengan siklus kelamin. Perubahan mana tampak jelas pada epithel vagina yang penting untuk identifikasi siklus kelamin khusunya pada rodensia dan karnivora. Fungsi vagina adalah : pada waktu kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah ejakulasi berlangsung.

Struktur histologi:

Ø Mempunyai epithel pipih banyak lapis, pada pengenalan siklus kelamin epitel ini mendapat sorotan khusus. Pada ruminansia besar epithel vagina kranial sering tampak adanya sel mangkok, yang jelas dan besar pada waktu esterus, sel ini penghasil lendir, dikeluarkan pada waktu metestrus.

Ø Pertandukan (keratinization) pada permukaan epithel pada ruminansia besar tidak jelas, hanya sel permukaan jumlahnya meningkat. Pada karnivora anjing pertandukan tampak jelas pada waktu estrus, banyak sel permukaan lepas dan tercampur dengan eritrosit berasal dari endometrium.

Ø Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung berbatasan dengan sub mukosa, semakin menuju vestibulum jumlah folikel getah bening semakin meningkat, pembuluh darah banyak terdapat didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar yang lebih sedikit mengandung sel jaringan ikat

Ø Tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar dan memanjang. Pada anjing tampak adanya tiga lapis yakni lapis longitudinal luar dan dalam dan lapis melingkar disebelah dalam, pada hewan piara yang lain lapis longitudinal dalam jarang tampak.

Ø Tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak, pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel getah bening serta kelenjar di daerah vestibulum. Serosa hanya tampak dibagian kranial.

3 Alat Kelamin Luar (Genitalia externa)

3.1 Vestibulum

Vestibulum merupakan daerah perbatasan antara vagina dan vulva. Daerah yang berbatasan dengan vagina ditandai dengan adanya selaput dara (himen), selaput dara jelas berkembang pada manusia tapi pada hewan piara kurang jelas, hanya berupa sedikit kenaikan mukosa. Daerah permuaraan urethra betina dianggap daerah perbatasan antara vagina dan vestibulum. Glandula vestibulares mayor dan minor bermuara di daerah vestibulum, bahkan didaerah ini sering tampak sisa (vestige) saluran limfe, dari masa kehidupan embrional.

Struktur histologi :

o Lamina epithelialis terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang juga mengikuti perubahan siklus kelamin, sebagaimana terjadi pada vagina. Infiltrasi leukosit sering tampak pada epithel. Pada kuda dan sapi sering membentuk lipatan berbentuk buluh mirip lakuna dari morgagni pada urethra.

o Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar membentuk papil mikrsokopik dan mengandung banyak serabut elastis, limponodulus banyak terdapat didalamnya, bahkan pada ruminansia besar sangat mencolok. Lebih dalam lagi terdapat pleksus venosus dan kelenjar vestibularis mayor jelas pada ruminansia besar, kucing dan kadang-kadang domba. Pada manusia cukup subur disebut kelenjar Bartholini.

o Glandula vestibularis minor tampak pada anjing, kucing, domba, babi dan kuda terletak lebih superfisial dan tersebar. Pada kucing dan domba banyak terdapat sekitar klitoris, kedua kelenjar tersebut bersifat tubulo-asinus majemuk dengan sel ujung kelenjar bersifat mukous. Kelenjar ini bermuara dibagian lateral dari vestibulum. Khususnya pada anjing dan kuda dikenal istilah Bulbus vestibuli berupa kavernous yang berkembang mirip korpus kavernosum urethrae terdapat pada dinding lateral vestibulum. Bulbus vestibuli sering memiliki kapsula yang cukup jelas, pada waktu kopulasi khususnya anjing mungkin bulbus vestibuli ini ikut berperan dalam menahan bulbus glandis penis. Pada hewan lain kaverneus tidak begitu subur pertumbuhannya.

o Sub mukosa sifat jaringan ikatnya lebih longgar dari tunika propria. Lobulus kelenjar terdapat dalam lapis ini, bahkan kadang-kadang lebih dalam lagi diantara muskulus konstriktor vestibuli, karenanya dianggap homolog dengan kelenjar cowper.

o Tunika muskularis terdiri atas : lapis dalam dan lapis luar, lapis paling luar adalah otot kerangka yakni muskularis konstriktor vestibuli dan muskularis konstriktor vulvae. Pada anjing muskularis konstriktor vestibuli berperan dalam menahan glans penis waktu kopulasi berlangsung.

o Tunika adventitia berupa jaringan ikat longgar yang mempertautkan vestibulum dengan alat tubuh sekitarnya.

3.2 Labia

Berupa bibir dari vestibulum dengan komisura dorsalis dan ventralis. Kalau pada manusia jelas dapat dibedakan antar labio majora dan minora, maka pada hewan piara lain keadaanya. Yang berkembang justru hanya sepasang dan ada kaitannya dengan labio minora pada manusia, selebihnya tertutup oleh kulit yang mengalami pigmentasi lebih kuat dari kulit sekitarnya, pada hewan daerah ini lebih dikenal sebagai daerah vulva.

Pada anjing labio majora agak berkembang berupa elevasi kulit lateral dari labio minora. Korium bersifat fibroelastis dan subkutis banyak mengandung jaringan lemak. Muskulus konstriktor vulvae (otot kerangka) relatif subur pada anjing dan babi.

3.3 Klitoris

Secara anatomis klitoris terdiri atas : badan (Corpus klitoridis) dan kepala (Glans klitoridis) dan selubung (Preptium klitoridis). Pada kedua bagian ini banyak mengandung ujung saraf sensoris, Korpus klitoridis memiliki korpus kavernosum seperti pada penis karenanya dipandang homolog dengan penis, meskipun dalam format kecil, bedanya pada klitoris tidak dilalui urethra.

Pada kuda didalamnya terdapat otot polos. Pada anjing, kucing dan babi dibagian tengah terdapat jaringan lemak. Ujung bebas daerah korpus kavernosum bersifat fibrous mirip pada penis ruminansia. Glans klitoris pada najing dan kuda korpus kavernosum glandis mirip glans penis ukuran kecil, tetapi sapi, domba, kambing dan babi kurang berkembang, hanya berbentuk jaringan ikat dengan pembuluh darah didalamnya. Preptium dibalut oleh epithel pipih banyak lapis tanpa rambut dan kelenjar kulit, didalamnya banyak terdapat ujung saraf simpatis.